Diposkan pada Agama dan Psikologi, Pendidikan

Pembelajaran Bahasa Arab di Sekolah Dasar

Pembelajaran Bahasa Arab di Imam Nawawi Islamic School
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (yusuf:2)
Bahasa Arab adalah bahasa ummat Islam dan bisa dikatakan bahasa yang dipelajari di semua sekolah Islam. Namun sayangnya saat ini walau ada pembelajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah Islam terutama sekolah dasar non pesantren seperti ada tapi tiada, ada tapi tidak ada bekasnya. ada tapi hanya seminggu sekali. Hingga ada sekolah Islam target pembelajaran selama 6 tahun belajar hanya menguasai 150 kata. sedikit sekali bisa dikatakan hanya pernah belajar bahasa Arab, sehingga banyak dijumpai di sekolah Islam anak lebih fasih bahasa Inggris dibanding bahasa Arab.
Hal Ini disebabkan waktu yang terlalu sedikit (biasanya hanya 1 x pertemuan / 2 jam pelajaran per pekan) sedangkan mapel dan tuntutan terlalu banyak. akhirnya siswa tidak mampu belajar dengan optimal, diluar metode pembelajaran bahasa yang tidak sesuai dengan usia anak.
Imam Nawawi Islamic School Menjadikan Bahasa Arab Sebagai Program Unggulan. sehingga siswa mempelajari bahasa Arab setiap hari atau 10 jam / pekan. Dengan menggunakan kurikulum modular mandiri yang dikembangkan oleh Imam Nawawi Islamic School, siswa diajarkan secara bertahap mengusai bagian demi bagian bahasa Arab. sehingga setelah belajar 6 tahun (SD) atau 9 tahun (SD dan SMP di INIS) siswa kami harap berkemampuan bahasa arab sebagai second language mereka sebagaimana sebagian orang yang fasih berbahasa Inggris.
Adapun Pembelajaran Bahasa Arab di Imam Nawawi Islamic School meliputi
Kelas 1
1) BTA : baca tulis Arab sehingga mereka bisa belajar mandiri nantinya.
2) Mufradat : menghafal kata-kata penting dalam bahasa Arab
Kelas 2 dan 3
1) Hiwwar : Percakapan dalam bahasa Arab
2) Qiroah : membaca cerita dan literasi arab buat anak anak
Kelas 4
1) Shorof : Perubahan kata dasar
2) Imla : Menulis Arab dari mendengar
Kelas 5
1) Sima’i : Mendengarkan literasi arab terutama percakapan dan Kajian Keislaman
2) Nahwu : Tata bahasa Arab
Kelas 6
1) Membaca kitab bahasa Arab
2) Nahwu : Tata bahasa Arab
dengan ini semua kami berharap lulusan kami pandai berbahasa Arab, bukan hanya pernah belajar bahasa Arab. sehingga mereka nantinya bisa memahami AL Quran dan Islam dengan langsung mengambil dari sumbernya.
Sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khatab.
Pelajarilah Bahasa Arab karen itu merupakan bagian dari agama kalian.
Iklan
Diposkan pada Pendidikan

SMU Seberapa Perlukah?

Mungkin Judul yang saya buat agak profokatif, namun sebagai seorang guru yang sekaligus menggeluti bidang usaha/bisnis terkadang saya melihat betapa timpangnya pendidikan kita.

Sebagai sebuah negara berkembang, seharusnya kita menyadari bahwa kita tidaklah dapat bersaing head to head dengan negara-negara maju ataupun negara-negara kaya petrol, kita harus jeli melihat apa kelebihan utama kita dan apa kekurangan utama kita bukan sekedar kelebihan dan kekurangan. mari kita lihat satu persatu.

yang pertama saya lihat kelebihan kita adalah berlimpahanya sumber daya manusia, sedangkan kekurangan utamanya adalah minimnya kualitas SDM tersebut. Kelebihan dan kekurangan ini lah faktor utama yang harus kita kembangkan dan perbaiki.

yang akan saya bahas kali ini adalah bagaimana seharusnya pendidikan menengah atas diarahkan.

Fakta yang ada sekarang ini adalah hanya 15-25 % dari lulusan pendidikan menengah atas yang melanjutkan ke perguruan tinggi. lalu apa yang harus kita lakukan?

Ok saya akui lulusan perguran tinggi jelas lebih baik dan lebih dalam ilmunya, tapi bagaimanapun hanya 15-25% yang masuk perguruan tinggi. hal ini disebabkan masih sedikitnya perguruan tinggi dan tingginya biaya kuliah. walaupun anggaran APBN sebesar 20% sudah direalisir, kenyataanya sebagain besar dihabiskan untuk belanja gaji pegawai dll. krn kurang efektifnya alokasi dan penyerapan anggaran.

tetapi angka 20% itu adalah kenyataan yang harus kita akui dan hadapi. Artinya ada sebesar 80% dari lulusan SMA yang harus segera bersaing mencari pekerjaan. atas dasar inilah tulisan ini dibuat.

Saran saya adalah :

Pertama : tingkatkan atau rubah rasio SMK dengan SMU

Perubahan ini mutlak harus diperlukan lulusan SMA dapat langsung bersaing atau siap bekerja di dunia nyata. ideal adalah 70 : 30. bagaimana hal ini dilakukan? konvertasi SMU menjadi smk jelas tidak mungkin mengingat jauh berbedanya cara belajar dan kebingungan dengan banyaknya guru yg akan kehilangan pekerjaan. oleh karena itu langkah terbaik adalah minimkan jumlah siswa perkelas di smu hingga maksimum 30 orang perkelas dan jumlah kelas dibatasi. hal ini juga akan meningkatakan efektifitas mengajar.

tingkatkan jumlah SMK negeri di daerah daerah.

buka jurusan-jurusan baru di smk, seperti fashion / menjahit plus-plus, machinary (simple), dan berbagai industri strategis yang mungkin dikerjakan rumahan, sehingga kedepan bisa tercipta supply chain di industri strategis kita. sebagaimana di china sepeda motor aja home industri bisa membuatnya.

tanamkan kewirausahaan sejak dini, jadikan bahan pelajaran yang dipelajari dalam tiga tahun, tidak hanya masalah bagus dan baiknya menjadi pengusaha, tapi juga diajarkan masalah-masalah teknisnya, mulai dari pengaturan dan pencatatan keuangan, manajemen bahan baku dan supply chain, marketing dan penjualan, serta manajemen tenaga kerja. janga lupan ajarkan kemandirian dan kemauan utk merantau,

tingkatkan jam pelajaran bahasa inggris menjadi 5 jam, dengan 4 jam listening, speaking n conversation, sedangkan sisanya utk grammar. ingat kita tidak mendidik mereka utk menjadi ahli bahasa inggris maupun penulis bhs inggris. ckp membuat mrk bisa bercakap-cakap dlm bhs inggris fluently. bkn correctly. contoh India dlm hal ini, bhs inggris mrk tidak begitu bagus, tapi begitu lancar.

dengan kemampuan seperti itu diharapkan kedepan kita tidak lagi mengirim wanita-wanita ke luar utk menjadi pembantu yg kita was-was akan dilecehkan, tp kita dapat mengirim tenaga-tenaga trampil yg menghasilkan devisa lebih besar, dan membagakan. saya punya kenalan yg bekerja hanay sebagai tukang las/bubut di sebuah industri jepang gaji dia sebulan sekitar 10 juta, demikian jg kenalan ssaya yg bekerja di dubai gajinya hingga 20 jt padahal pegawai tingkat rendah. Org indonesia terkenal sabar dan tangguh menghadapi tekanan di gaji lebih kecil jg siap (kecil standar negara maju).

ketika mereka sdh memiliki modal cukup mereka akan kembali, atau bahkan mrk yg langsung berani membuka usaha begitu lulus. efek dominonya akan luar biasa.

sebagai contoh saya memiliki usaha di bidang tas, membutuhkan bahan baku, kulit baik asli maupun sintetis, serta bahan pendukung dan aksesoris. sayangnya sebagian besar impor dari china, sedangkan bahan pendukungnya dari jerman dan jepang. saya yakin banyak lulusan smk yang memiliki kemampuan setara dengan orang-orang china, saya yakin mereka mampu membuat cetakan logam untuk membuat berbagai aksesoris tas. dari satu peluang ini akan muncul berbagai peluang yang lain (efek domino). dibutuhkannya alat pencetak cetakan, terbukanya industri dan perdagangan logam, bahan kimia dll.

Dan jangan lupa sebarkan dan tanamkan kepada orang tua dan siswa smp, jika mereka memang tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi maka yang terbaik bagi mereka dan anak-anak mereka adalah masuk smk. tanpa edukasi akan hal ini hal itu semua kana percuma.

terakhir saya bawakan perkataan mantan presiden RI BJ Habibie dalam rapat dengar pendapat dengan DPR RI Komisi 1 dalam hal alusista,

“Jika kita Impor maka kita membayar jam kerja mereka, sedangkan jika kita produksi maka kita membayar jam kerja rakyat Indonesia”.