Diposkan pada Business and Marketing, Case Study

Case Study : The Down of BlackBerry

Blackberry
RIM sekarang Blackberry

Case Study saat ini adalah tentang Blackberry, sudah lama saya ingin menulis hal ini, lebih dari setahun yang lalu, namun baru bisa menyempatkan sekarang

Blackberry suatu nama yang dulu sangat disegani sebagai penguasa market share smartphone, namun sekarang hanya memiliki market share ~3%. Miss management, kesalahan keputusan strategis dan eksekusi buruk yang bertubi-tubi, menyebabkan nama besar ini ditinggalkan oleh sebagian besar konsumennya.

Mari kita telaah kesalahan-kesalahan apa saja yang telah dilakukan Blackberry.

1. Kesalahan Membaca Pasar

Blackberry terlambat masuk ke Touchscreen smartphone yang dipopulerkan oleh Apple (Apple bukanlah pioner yang pertama mempekenalkan touchscreen smartphone)

harga-bb-storm1
BB Storm salah satu produk gagal Black Berry

2. Eksekusi yang buruk.

Setelah menyadari bahwa touchscreen adalah the next big thing dengan suksesnya i-phone maka Blackberry pun membuat Blackberry storm, buruknya performa OS BB berbasis java di storm membuat penerimaan smarphone ini menjadi blunder bagi blackberry, lambat hang restart dan jam pasir adalah menu wajib pemilik storm.

3. Perfeksionis yang tidak pada tempatnya. yang mnyebabkan keterlambatan time to market dan kehilangan momentum.

Menyadari akan kelemahan OSnya maka blakberrry membeli start-up software berupa QNX yaitu suatu RTOS real time operating system, suatu teknologi paling canggih di dunia si waktu itu Operating System yang akan menawarkan fleksibilitas, kecepatan, dan daya tahan baterai yang mumpuni seharga $ 1 Billion, namun Os yang dibeli tahun 2010 blakberry membuthukan waktu hampir tiga tahun untuk melucurkannya. dengan alasan kami tidak ingin meluncurkan produk yang tidak sempurna, padahal ketika itu market share Blackberry terus tergerus.

bandingkan dengan Google, android dikeluarkan sejak android 1.6 donut, dan diupdate setiap enam bulan, sebagai bentuk continu improvement. hingga kita kenal android eclair, froyo, gingerbeard, honeycomb, icecream sandwich, dan terakhir jellybean. hingga saat ini Android belumlah sempurna (menurut saya selama masih menggunakan dalvik dan surface flinger), tetapi jauh kualitas antara donut dengan jellybean.

4. Hardware perantara yang un-upgradedable

Waktu jeda antara qnx based BBM dan Java based BBM, Blackberrry menciptakan BB OS 7 yang secara terang-terangan mereka katakan tidak bisa di Upgrade ke BB OS 10 (dulu BBX), padahal mereka telah menjanjikan segala kelebihan BBX, tentu ini menyebabkan turunnya ketertarikan calon consumen dan menyebabkan mereka berpindah ke smartphone yang lain selain menunggu.  hal ini sama dengan yang dilakukan steven elop dengan Nokia ketika menyebutkan Symbian adalah burning platform dan beralih ke windows, ketika  portofolio Nokia sebagian besar masih Symbian

5. Ekslusifitas yang konyol

BB Play Book
BB Play Book

Merasa masih diatas awan, Blackberrry menciptakan tablet Playbook, yang anehnya tidak bisa ber BBM dan hanya bisa digunakan sebagai teman BB smartphone dengan BBM bridge, konyol dan merepotkan konsumen setia mereka. Padahal ketika itu Playbook memiliki hardware dan OS yang mumpuni bahakan diatas IPAD.

6. Marketing yang tidak tepat sasaran

BB heroes, entah siapa yang membuat ini, marketing campaign ini menyebabkan BB menjadi tak elegan lagi dikalangan bussines man, dan kekanakan di antara anak muda.

7. Hardware yang ketinggalan jaman dijual dengan harga premium

Setelah berhasil menyempurnakan BB10 akhirnya Blackberry meluncurkan smartphone pertama mereka BB Z10. namun disaat itu semua orang sudah beralih ke iphone dan android, dan saat itu (dan saat ini) BB adalah under dog, bukan pemimpin pasar, sehingga mereka harus berpikir bagaimana merebut pasar, akan tetapi yang mereka jual adalah produk ketinggalan jaman (dual core, layar kecil, resolusi non FHD). betul bahwa resolusi yang tinggi, quadcore prosessor, dl, adalah overkill untuk smartphone, tapi pasar menuntut itu, dan Blackberry Z30 tidaklah membantunya (hanya merubah ukuran spek sama), dan dijual dengan harga premium setara dengan galaxy s4 iphone 5 bahkan galaxy note, yang spek-nya jauh diatas mereka.

CEO-RIM-thorsten-heins8. CEO yang gagal mengkomunikasikan optimisme perusahaannya

Berbeda dengan Indonesia, oerusahaan-perusahaan luar ketika lounching produk biasanya langsung dipegang oleh CEOnya saat itu (tentu saja tanpa kata sambutan sana-sini). dan yang sangat disayangkan kebanyakan yang disampaikan oleh Thorsten Heinz adalah perusahannya BB tidak memiliki Hutang. Bukan kelebihan produknya. sekarang Ia sudah tidak di BB lagi.

9. terlambat/ tidak mau memperbaiki segmen pasar ketika kondisi pasar sudah berubah.

Dari awal 2013 hingga sekarang Blackberry hanya meluncurkan 4 produk BB 10, Z10, Q10, Q5, dan Z30. bandingkan dengan samsung lg dan yang lain, BB bukanlah smartphone premium untuk gaya hidup seperti Iphone karena dari semenjak awal BB sudah memperkenalkan produk value. Akan tetapi produk untuk menengah kebawah yang masih setia dengan BBM malah blackberry mengeluarkan kembali BB 9720 berbasis BBOS 7. kalo kata Bang Rhoma, Sungguh terlalu, belum lagi jika kita pikirkan BB Davis (belum 3G dibadrol 2 jeti, BB Q5 untuk yang ditargetkan untuk kelas menengah dijual seharga 4 jeti. Hasilnya adalah inventory write off sebesar $700 Million.

Sembilan point diatas adalah beberapa penyebab perusahaan Canada tersebut merosot market sharenya, ada beberapa point yang lain, tp saya kira cukup sekian dulu, pada artikel selanjutnya akan saya bahas bagaimana cara blackberry kembali ke smartphone market, walaupun seiring berjalannya waktu kesempatan mereka semakin mengecil. semoga apa yang saya sampaikan bisa bermanfaat dan ditarik faedahnya.

Adakah yang dapat menarik manfaat kesimpulan yang bisa diterapkan untuk bisnis kecil /SMB Small and Medium Bussines?