Diposkan pada Agama dan Psikologi, Kisah Nyata

Suatu Pagi di Pesantren

Pagi itu seperti biasa, kami berangkat ke masjid untuk sholat shubuh. Selesai sholat kami berdzikir dan membaca doa pagi dan sore, rutinitas yang kami jalani setiap hari. Namun ada yang lain hari ini, ketika kami hendak beranjak untuk persiapan belajar bahasa Arab, tiba-tiba Ustadz berkata dengan tegas,
“Jangan pergi dulu, hari ini ada yang ingin ana sampaikan”
maka kami pun kembali duduk, membentuk lingkaran pengajian, dan Ustadz-pun memulai pengajian,

Innal hamda lillah sa sholatu wasalamu “ala rosulillah, amma ba’du
mukadimmah yang singkat, yang biasanya ustadz sampaikan kalau mengumumkan sesuatu.
lalu Ustadz berkata dengan lantang
“Ada sebuah hadist”
مَنْ قَاتَلَ دُونَ مَالِهِ فَقُتِلَ فَهُوَ شَهِيدٌ

“man qotala dunna malihi wa huwa syahid” (HR Nasai 4016 dan yang semakna dengannya hingga 4023).
“Barang Siapa yang terbunuh untuk mempertahankan Hartanya maka ia Syahid” lalu dengan suara yang keras dan menghujam ustadz Melanjutkan.
“ANTUM ITU JANGAN PENGECUT!!!!!”
Jeder!!! kami pun diam tertunduk….
Flash Back

Cerita ini bermula ketika tahun pertama ana kuliah di IPB, pada waktu itu sedang dibangun sebuah pondok pesantren di dekat kampus, dekat tapi jauh, ditengah sawah, jauh dari pemukiman. Awal ana kesana pondok itu hanya seperti bangunan tak bertuan, dengan masjid yang setengah jadi dan bocor disana-sini, lubang-lubang galian pondasi yang belum jadi (pondasi sedalam 3-4 meter) yang berisi air, bangunan berupa bata yang ditumpuk tanpa atap yang hampir roboh (sekarang menjadi aula, dapur dan perpustakaan) bangunan yang sudah jadi hanyalah bangunan tempat tinggal ustadz dan asrama santri. rumah ustadz sendiri hanyalah rumah yang dibagi dua, terdiri dari dua kamar dan satu kamar mandi dihubungkan dengan masjid dan gerbang dengan jalan setapak yang masih berupa tanah.

Kami para mahasiswa diminta untuk menemani seorang Ustadz muda (tentu lebih tua dari ana) yang akan menjadi pengurus pesantren tersebut sebelum datang para santri yang ternyata baru akan datang hampir setahun kemudian. Walaupun pondok pesantren dikelilingi oleh pagar setinggi dua meter, namun tempat yang jauh dari pemukiman, lokasi yang luas dan berjauhan satu sama lain, menjadikan pondok pesantren menjadi sasaran yang empuk bagi para penyamun, dan tentunya kami pun menjadi korban pencurian penyamun tersebut, sudah 3 x saya membeli sepatu karena dicuri, walaupun jendela diberi jeruji, tidak bisa menghentikan langkah pencuri tersebut. Pernah suatu ketika kami (pada waktu itu ada tujuh orang lebih) terbangun dan menjumpai jeruji yang telah lepas dari bingkainya, jendela yang terbuka, dompet yang tak tahu dimana rimbanya, hp yang telah berpindah tangan, dan kaus kaki tanpa sepatu (sepatu ana hilang lagi).

Hari berlalu, dan minggu-pun berganti bulan, hingga di suatu malam, ana terbangun ketika mendengar suara tok-tok-tok. ana terdiam dan memperhatikan dengan seksama, kembali terdengar suara tersebut dari arah jendela. Maka ana pun bergerak perlahan untuk menyergap membangunkan senior A.
” Mas, bangun Mas, kliatannya ada yang mau nyongkel jendela deh, coba deh dengerin”
senior A pun terbangun,

” Wah betul” Ujarnya

Kemudian kamipun membangunkan senior-senior yang lain, katakanlah senior B,C, dan D. senior D yang paling muda diantara mereka (ana yang paling junior), berkata
“kita gerebek aja yuk”
“hayuk” kata senior C sambil kami memperisapkan diri. ketika kami baru mulai melangkah tiba-tiba senior A berkata :
“hati-hati loh, biasanya mereka sudah siap dengan parang dan golok, dan ga sendirian, bisa berlima atau lebih, nanti ketika kita baru nongol bisa-bisa malah kita yang disergap, dan melayanglah nyawa kita sia-sia”.
mendengar hal itu hati kami-pun menjadi keder…
akhirnya setelah diskusi kitapun keluar bersama-sama”.
senior D yang paling depan ”
“udah pergi aja, kita gak akan kejar, tapi jangan maling lagi ya”…. ngomong dari jarak jauh menghadap tumpukan kayu, bambu, dan bahan bangunan di dekat jendela.
tidak ada jawaban.
“Udah Pergi Aja” ujar senior D lagi, sekarang sambil melempar batu sandal dan apa aja yang bisa dilempar, kemudian terdengan suara gerebek gedabak gedebuk, dan kemudian hening.
setelah aga lama, kita mendekati jendela dan tampak bekas congkelan di sisi bawah jendela. alhamdullilah hari ini kita ga kemalingan.
maka shubuhpun tiba, dhuhur berganti ashar, ashar berganti maghrib, dan maghrib berganti isya, tidak habis-habisnya kami bercerita masalah pencurian itu. kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan persiapan selanjutnya, untuk mencegah hal itu berulang.
dan shubuh itu pun datang .

suara Ustadz yang lantar masih terngiang.
” ANTUM ITU JANGAN PENGECUT !!!”
“Kita ini seorang muslim, seorang muslim itu bukanlah pengecut, seorang muslim itu mencari syahid, bagaimana kalian akan berjihad jika mengahadapi pencuri aja takut. banyak diantara ulama dan orang sholih yang meniggal mempertahankan hartanya untuk mencari syahid.
dan jika memang kalian ga berani maka jangan membicarakan hal itu terus menerus, disamping kalian ada yang lemah, zaujah ana mendengar cerita antum jadi ga berani ditinggal.”

Rumah ana juga sering di datangi pencuri, pernah suatu ketika ana mendengar pencuri masuk melompati pagar belakng, waktu itu ana hanya bangun menyiapkan golok, menunggu, ketika pencuri tersebut mendekati jendela, ana segera buka korden mencabut golok dari sarungnya dan tersenyum.. pencuripun lari tunggang langgang. ga berani mereka kalau kitanya berani, kalau antumnya lemah dan lembek justru mereka akan semakin berani,

hal semacam itu ga pernah ana ceritakan hal itu kepada istri ana…..

dan ceramah ustadz pun berlanjut hingga matahari terbit.

dikemudian harin Ustadz memberikan kami lamu senter yang sangat besar yang bisa diisi ulang, dan beberapa bilah golok. kami hanya bisa memandang bilah-bilah golok tersebut, dan memanfatkannya untuk memotong rumput (semua dari kami yang tinggal disana setau ana ga pernah berkelahi apalagi megang golok).

Hikmah yang bisa ane ambil :
1. Semakin seseorang memahami tauhid, memahami islam, dan kuat keimanannya kepada Allah, maka Allah akan tanamkan keberanian kepada mereka, Allah tanamkan takut pada musuh-musuh mereka, karena mereka meyakini bahwa tiada kekuatan yang lebih besar dari Allah, Hidup dan mati ditangan Allah, dan tidak ada yang mereka cari melainkan Syahid serta syurganya.  dan ana lihat sendiri keberanian Ustadz selain dari kisah diatas.
2. Jangan suka mengobrol hal yang ga penting, yang diluar kemampuan, dan menakut-nakuti diri sendiri.
3. Jangan menceritakan segala sesuatu hal-hal yang dapat membuat orang yang lemah menjadi kuatir dan menakut-nakuti mereka. baik itu bahaya, kesulitan ekonomi, selama masih bisa dipecahkan sendiri maka jangan memberatkan istri adan anak kita untuk ikut memikirkannya tas nama sharing. suka duka ditanggung bersama, itu bukanlah sikap yang baik.

Syukron wa jazakumullohu khoiran ‘ala ustaduna Arman Amry Lc. dan senior-senior ana, kalo ada yang salah mohon diluruskan

sekian

Iklan

Penulis:

Seorang Hamba Allah yang berusaha mengamalkan ajaran Rosulnya Hidup itu perjuangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s